Monday, November 14, 2016

Ucapan Selamat Pagi dari Gunung Bromo


Sudahkah kamu menyadari betapa indahnya sang mentari? Ya, banyak orang yang  kurang menghargai benda yang berjasa dalam hidup kita itu. Banyak orang menganggap bahwa matahari hanya memberikan panas terik yang membuat kulit manusia berubah menjadi yang tak diinginkan, dan hanya menambah “sumuk” dalam kegiatan sehari-hari. Tapi sudahkah kamu sadari betapa cantiknya benda panas itu ketika membuka dan menutup hari-harimu?

Kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang sang fajar yang membuka hari saya dari Gunung Bromo.
Tanggal 27 Februari 2010 silam, saya berkesempatan untuk memberi salam pagi kepada sang fajar dari Gunung Bromo. Gunung Bromo terletak di Taman Nasional Gunung Bromo, Tengger, dan Semeru (TNBTS), Kab. Probolinggo, Kab. Pasuruan, Kab. Malang dan Kab. Lumajang, Jawa Timur. Di kawasan Pegunungan Tengger ini terdapat beberapa gunung seperti Gunung Bromo, Gunung Batok dan Gunung Semeru, tetapi tidak terdapat gunung Tengger karena ternyata nama tengger adalah nama masyarakat di kawasan pegunungan itu yaitu masyarakat Tengger. Ketinggian puncak Bromo sendiri adalah 2392 meter di atas permukaan laut.

Untuk menikmati sunrise atau matahari terbit kamu harus datang sebelum sang fajar muncul. Saat itu saya berangkat pukul 3 dini hari dari kota Malang menuju lokasi. Kira-kira satu jam setelahnya saya sudah tiba di tempat (jarak antara kota Malang dan Gunung Bromo adalah sekitar 57 km). Dan sudah banyak pula wisatawan lain yang tiba di sana. Suhu di sini sangat dingin sekitar 3-5oC bahkan pernah mencapai 00C. Jadi ketika kamu akan berkunjung kesini, usahakan memakai pakaian yang dapat menjaga tubuhmu tetap dalam suhu normal, sehingga kamu tidak terserang hipotermia. Sambil menunggu sang mentari muncul kamu dapat menikmati secangkir kopi atau teh hangat serta makanan ringan seperti pisang goreng di warung-warung kecil yang letaknya tak jauh dari tempat untuk menyapa sang fajar.


Kira-kira jam 5 pagi saya beranjak ke tempat dimana kita dapat melihat pemandangan Gunung Bromo yang disinari fajar pagi dengan jelas. Langit masih gelap saat itu namun  kira-kira pukul 5.35 pagi, semburat merah muncul dari arah timur. Indah sekali. Dan saya pun akhirnya dapat menikmati ucapan Selamat Pagi dari Gunung Bromo.

Destination : Mount Bromo (Bromo, Tengger, Semeru National Park)
Location : East Java, Indonesia


Amenities : public facilities (toilet, mosque, food stall, souvenir shop, parking lot) and accommodation


note: the article above is one of my writing from 2013, written in Indonesian.

Journey to Pacitan


Pacitan, 23 Januari 2013
Diiringi matahari yang bersinar cerah pagi ini teman-teman pariwisata dari Kelana Wisata Himpunan Mahasiswa Pariwisata (HIMAPA) berangkat menuju Pacitan, Jawa Timur. Tim Kelana Wisata kali ini adalah Enggar, Adit, Kharisma, Ifa, Gadis, Kirana, Anisa, Haryono, Yasir, Hendra, Tasya, Widi, Umi, dan Yuntika. Kami berangkat pukul 6.30 dari FIB. Perjalanan menuju Pacitan dapat ditempuh melalui jalur dari Gunung Kidul melewati Wonosari dan Pracimantoro selama kurang lebih 3 jam. Sesampainya di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, kami langsung menuju ke objek wisata yang pertama yaitu Goa Gong.

Situs Goa Gong adalah salah satu objek wisata di Pacitan yang banyak menjadi incaran para wisatawan yang berkunjung ke daerah ini. Goa yang terletak di desa Bomo, Kecamatan Punung, Pacitan, Jawa Timur, ini memiliki bentuk horizontal sepanjang 256 meter. Sehingga pintu masuk dan keluar yang digunakan sama karena rute goa ini berputar mengelilingi goa. Goa ini sangat luar biasa, dihiasi oleh ratusan stalaktit dan stalagmit juga batuan kapur di sekeliling goa yang dapat membuat pengunjung takjub akan keindahannya. Mengapa dinamakan Goa Gong? Karena banyak terdengar bunyi gong dari dalam goa ini yang berasal dari bebatuan goa yang jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi menyerupai alat musik gong.  

Untuk masuk ke dalam Goa ini kamu hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 5.000/orang. Di luar goa banyak pedagang yang menyewakan senter seharga Rp 3.000/senter. Namun jika tidak ingin menyewa senter pun tidak masalah karena keadaan di dalam goa sudah dilengkapi dengan pencahayaan yang memadai dari lampu-lampu taman dan lampu sorot yang dipasang di sisi-sisi goa. Goa ini pun telah dilengkapi oleh tangga dan besi pengaman yang akan menjadi penuntun ketika menelusuri goa. Goa ini juga dilengkapi dengan beberapa kipas angin untuk sirkulasi udara di dalam goa. Objek wisata yang satu ini sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti wc umum, musholla, rumah makan, toko souvenir, juga tempat parkir.

Destination : Gong Cave
Location : Bomo Village, Punung, Pacitan, East Java, Indonesia
Ticket price : IDR 5.000/person (record on 2013)

Amenities : public facilities (toilet, mosque, food stall, souvenir shop, parking lot)

Setelah menyusuri keindahan Goa Gong kami pun beranjak ke objek wisata yang kedua yaitu Pantai Klayar yang terletak di Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Hanya dengan membayar sebesar Rp 3.000/orang kalian dapat memanjakan mata dengan pemandangan luar biasa. Pantai berpasir putih ini sangat menakjubkan, dengan ombak yang sangat besar seakan mengucapkan selamat datang kepada kami. Kami pun sejenak melepas lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Walaupun kami tidak dapat berenang di pantai ini karena ombaknya yang sangat tinggi namun kami cukup puas dengan hanya memanjakan mata kami menikmati pemandangan yang sangat luar biasa ini. Di pantai ini terdapat beberapa warung makan juga mck yang dapat digunakan para pengunjung. Jika dilihat dari atas Pantai Klayar ini memiliki panorama berbentuk hati, sangat menakjubkan. Tidak hanya itu, di pantai ini pun terdapat sebuah karang yang memiliki celah yang dapat berbunyi seperti suling. Luar biasa.

Destination : Klayar Beach
Location : Donorojo, Pacitan, East Java, Indonesia
Ticket price : IDR 3.000/person (record on 2013)


Amenities : public facilities (toilet, mosque, food stall, parking lot)

Hari pun beranjak sore, setelah makan siang di pinggir pantai kami pun dengan berat hati akhirnya meninggalkan Pantai Klayar untuk selanjutnya pergi ke penginapan. Setelah sejenak melepas lelah di penginapan kami pun beranjak lagi ke objek wisata selanjutnya yaitu Pemandian Air Panas Banyu Anget Tirto Husodo di Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Dengan membayar sebesar Rp 4.000/orang kami dapat berendam di kolam air hangat ini untuk melepas rasa lelah. Objek wisata ini telah dilengkapi dengan beberapa kamar mandi berair hangat dan dingin, musholla, kursi berpayung untuk beristirat juga toko-toko souvenir. Setelah selesai berendam di kolam ini kami pun kembali lagi ke penginapan.  

Destination : Banyu Anget Tirto Husodo Hot Spring
Location : Karangrejo Village, Arjosari, Pacitan, East Java, Indonesia
Ticket price : IDR 4.000/person (record on 2013)



Amenities : public facilities (toilet, mosque, food stall, souvenir shop, parking lot)

Setelah beristirahat di penginapan, pada malam hari kami pergi ke objek wisata berikutnya yaitu Pantai Teleng Ria untuk makan malam dan berapi unggun di pinggir pantai. Untuk masuk ke pantai ini dibutuhkan uang sebesar Rp 5.000/orang. Dengan menu makan seafood yang sangat lezat yang dinikmati di pinggir pantai rasanya semua kelelahan kami sepanjang perjalanan terbayar sudah. Setelah makan malam kami pun membuat api unggun di pinggir pantai, sayang sekali hujan turun. Akhirnya hari ini pun ditutup dengan acara api unggun yang tidak berlangsung lama namun tetap berhasil terlaksana.

Destination : Teleng Ria Beach
Location : Pacitan, East Java, Indonesia
Ticket price : IDR 5.000/person (record on 2013)



Amenities : public facilities (toilet, mosque, food stall, parking lot)


Pacitan, 24 Januari 2013
Mentari pagi kembali menyambut kami. Selamat pagi Pacitan, ucap kami pada dunia. Setelah bersiap-siap kami pun beranjak kembali ke Pantai Teleng Ria untuk sarapan pagi. Beruntunglah kami menginap di penginapan yang tidak jauh letaknya dari Pantai Teleng Ria. Setelah menikmati sarapan pagi di pinggir pantai kami pun beranjak ke objek wisata yang terakhir yaitu Pantai Srau.

Hanya dengan membayar sebesar Rp 2.000/orang lagi-lagi mata kami dimanjakan oleh pemandangan cantik dari bumi pertiwi ini. Pantai Srau yang terletak di Desa Candi, Kecamatan Pringkuku ini adalah pantai berpasir putih dan berkarang yang memiliki ombak yang cukup tinggi sehingga terdapat larangan untuk berenang. Namun kami tak dapat menahan keinginan kami untuk menceburkan diri ke permadani turquoise di hadapan kami ini. Kami pun berenang dan bermain air di pantai cantik ini. Jangan khawatir, pantai ini telah dilengkapi dengan beberapa tempat mck dan juga terdapat warung-warung makan di pinggir pantai. Tak terasa hari beranjak siang dan kami pun lagi-lagi dengan berat hati harus meninggalkan pantai cantik ini untuk segera pulang ke Yogyakarta. Setelah sebelumnya makan siang di sebuah warung makan kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan pulang menuju Yogyakarta.

Destination : Srau Beach
Location : Candi Village, Pringkuku, Pacitan, East Java, Indonesia
Ticket price : IDR 2.000/person (record on 2013)



Amenities : public facilities (toilet, mosque, food stall, parking lot)

Banyak sekali kenangan manis yang tercipta dalam perjalanan 2 hari 1 malam ini. Terima kasih kepada Pacitan untuk objek wisata yang sangat menakjubkan. Semoga pariwisata di Pacitan terus maju dan tetap eksis di Indonesia.


note: the article above is one of my writing from 2013. This writing was a second winner of travel writing competition in Universitas Gadjah Mada Yogyakarta and it was written in Indonesian.

Malioboro


Yogyakarta, sebuah kota dengan beribu makna. Kota dengan bermacam sebutan ini selalu memberikan kenangan bagi para pengunjungnya. Kota ini pun terkenal dengan beragam tujuan wisatanya. Salah satu tempat tujuan wisata yang sangat terkenal di Yogyakarta adalah malioboro.

Malioboro adalah sebuah kawasan di daerah 0 kilometer Yogyakarta. Kawasan ini bisa juga disebut sebagai jalan protokol di Yogyakarta, karena jalan ini berbatasan langsung dengan Jalan Abu Bakar Ali juga Jalan Pasar Kembang di sebelah utara dan Jalan Jenderal Ahmad Yani di sebelah selatan. Jalan Malioboro pun termasuk dalam garis imajiner Yogyakarta yang menghubungkan Gunung Merapi, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pantai Selatan.

Sebagai ikon kota Yogya, Malioboro tentunya sangat terkenal di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara. Kawasan ini tak pernah sepi pengunjung. Mulai dari terbit matahari hingga sang fajar muncul kembali di esok harinya. Apa yang sebenarnya membuat Malioboro begitu menarik?

Letaknya yang strategis karena berdekatan dengan stasiun tugu, pasar beringharjo, kantor pos pusat dan juga kraton Yogyakarta menjadi alasan kuat mengapa Malioboro ini sangat terkenal dan menarik perhatian banyak orang. Banyak pula kegiatan yang bisa dilakukan di kawasan malioboro ini, mulai dari sekadar melihat-lihat kemolekan bangunan-bangunan peninggalan Belanda, berbelanja di kaki lima yang terbentang di sepanjang jalan malioboro, hingga makan di lesehan sambil mendengar alunan musik dari para seniman jalanan.

Hal unik lain dari malioboro terletak pada bahu jalan di sebelah jalan utama. Bahu jalan ini hanya boleh dilewati oleh pejalan kaki, becak dan andong. Di bahu jalan ini pun banyak becak dan andong yang mengistirahatkan diri selagi menunggu penumpang. Juga trotoar yang terletak di sepanjang jalan malioboro. Namun sayangnya, sekarang trotoar ini digunakan sebagai lahan parkir motor. Hal ini menyebabkan mobilitas para pejalan kaki terganggu. Seharusnya pemerintah kota Yogyakarta segera menertibkan masalah ini agar para pengunjung malioboro dapat menikmati jalanan malioboro dengan nyaman.

Destination : Malioboro street
Location : Yogyakarta, DI Yogyakarta, Indonesia
Amenities : public facilities (toilet, mosque, restaurant, food stall, souvenir shop, mall, parking lot)

note: the article above is one of my writing from 2013. This writing was published as a travel article on my college bulletin, so that it was written in Indonesian.  

Goa Gong


Situs Goa Gong adalah salah satu objek wisata di Pacitan yang banyak menjadi incaran para wisatawan yang berkunjung ke daerah ini. Goa yang terletak di desa Bomo, Kecamatan Punung, Pacitan, Jawa Timur, ini memiliki bentuk horizontal sepanjang 256 meter. Sehingga pintu masuk dan keluar yang digunakan sama karena rute goa ini berputar mengelilingi goa. Untuk masuk ke dalam Goa ini pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 5.000/orang. Di luar goa banyak pedagang yang menyewakan senter seharga Rp 3.000/senter. Namun jika tidak ingin menyewa senter pun tidak masalah karena keadaan di dalam goa sudah dilengkapi dengan pencahayaan yang memadai dari lampu-lampu taman dan lampu sorot yang dipasang di sisi-sisi goa. Goa ini pun telah dilengkapi keamanan yang memadai oleh tangga dan besi pengaman yang akan menjadi penuntun ketika menelusuri goa. Goa ini juga dilengkapi dengan beberapa kipas angin untuk sirkulasi udara di dalam goa. Objek wisata yang satu ini sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti wc umum, musholla, rumah makan, toko souvenir, juga tempat parkir sehingga memudahkan wisatawan yang berkunjung. Goa ini sangat luar biasa, dengan ukuran goa yang sangat besar dan luas goa ini dihiasi oleh ratusan stalaktit dan stalagmit juga batuan kapur di sekeliling goa yang dapat membuat pengunjung takjub akan keindahannya. Mengapa dinamakan Goa Gong? Karena di dalam goa ini terdapat sebuah batu yang jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi menyerupai alat musik gong. Hal ini tentunya menjadi satu kelebihan yang dimiliki Goa Gong untuk menarik minat pengujung. Goa ini pada umumnya sama seperti kebanyakan goa lainnya yang hanya berisikan stalaktit dan stalagmit, namun kemolekan dari bebatuan di Goa Gong ini tidak dapat disamakan dengan banyak goa lain di luar sana. Sehingga tak heran jika Goa Gong mampu memukau para pengujungnya dengan keunikan dari setiap batu-batuan alam di dalamnya. Siapa yang menyangka bahwa di bawah tanah yang kita pijak ini ternyata tersimpan keindahan alam yang sungguh menakjubkan. 

Destination : Gong Cave
Location : Bomo Village, Punung, Pacitan, East Java, Indonesia
Ticket price : IDR 5.000/person (record on 2013)

Amenities : public facilities (toilet, mosque, food stall, souvenir shop, parking lot)


note: the article above is one of my writing from 2013. This writing was published as a travel article on my college bulletin, so that it was written in Indonesian.  

Sunday, September 11, 2016

Greetings


First, let me introduce myself. My name is Anisa Sekarningrum, please call me Nisa. I am currently living in Yogyakarta, Indonesia. I am a fresh graduate from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. My background is tourism study. I have interests in travel and tourism, hospitality, music, food, coffee, photography, culture, art, and many things. This blog will contain my journey experience and personal opinion. Later on, I hope my travel experience could help your next journey.

I am Nisa, your travel counselor.
Regards.